• JL. BATHIN MUHAMMAD ALI, TELUK ASAH RT.005RW.003

suku laut desa berakit

29 Juli 2020 RISKA EMELIYA Berita Desa Dibaca 87 Kali

SUKU LAUT - Orang Suku Laut Desa Berakit
Awal mula kampung ini disebut panglong dikarenakan banyaknya bangunan tungku (dapur) arang yang terdapat di daerah tersebut. Kata panglong diambil dari adanya rumah Tungku Arang yang berbentuk bangunan setengah bola. Tungku Arang yang terdapat di kampung panglong berjumlah tiga dengan diameter lebih kurang 4 meter dan bangunan yang kecil untuk tempat letak mesin Diesel.

Orang Suku Laut di Kabupaten Bintan paling ramai di Desa Berakit. Lokasinya di Kampung Panglong yang bisa diakses lewat jalur darat. Letaknya diujung Pulau Bintan. Di kampung ini sekitar 75 kepala keluarga (KK) penduduknya orang Suku Laut. Mayoritas beragama Katolik, meski ada juga yang beragama Islam. Banyak juga orang Suku Laut yang kawin mawin dengan orang Flores. Asal usul Orang Laut Berakit ini dari Pulau Kubung, Batam.

Pada awalnya hanya satu kepala keluarga (KK) Suku Laut yang tinggal di Kampung Panglong ini tahun 1962. Namanya Bone Pasius atau lebih dikenal dengan nama Pak Boncit. Disusul generasi kedua Suku Laut pada tahun 1965 bertambah menjadi tiga kepala keluarga yang berasal dari Perairan Kelong dan Perairan Numbing. Yakni, keluarga Mat, keluarga Dolah dan Keluarga Jantan. Dasar pertimbangan suku laut untuk menetap diri untuk berdomisili di Kampung Panglong karena Desa Berakit memiliki kekayaan terumbu karang sebagai tempat berkembang biaknya aneka ragam hayati ikan bila dibandingkan dengan wilayah perairan yang lain.

Usai Boncet meninggal, ketua Suku Laut Kampung Panglong Berakit dipegang anaknya bernama Tintin. Ia belum menikah, pendidikannya pun maju karena sempat kuliah di Singapura. Sehari-hari Tintin yang masih lajang ini mengajar Bahasa Inggris bagi anak-anak Suku Laut Panglong. Ada juga warga Tianghoa yang ikut belajar pada dirinya. Ia lahir sudah di darat, namun juga belajar budaya Orang Laut. Kakak Tintin yang bernama Meri lebih paham soal kebudayaan Orang Laut Berakit. Menurut Meri yang bersuamikan Lago, pria Suku Laut asal Pulau Air Mas, Batam, tak ada lagi Orang Suku Laut Kampung Panglong yang mengembara. Semuanya kini sudah tinggal di darat dan memiliki rumah.

Lago, suami Meri memiliki orang tua dan saudara-saudara yang tinggal di Pulau Air Mas, Ngenang. Tak hanya dirinya, rata-rata orang Air Mas juga memiliki saudara di Desa Berakit, Bintan. Menurut Lago, Orang Panglong Berakit rata-rata asalnya dari Pulau Kubung yang dekat dengan Air Mas. Selebihnya dari wilayah Bintan lain.
Kehidupan warga Suku Laut Panglong sangat tergantung hasil tangkapan hasil laut. Tahun 2000 mulai terjadinya penurunan hasil tangkapan ikan yang cukup drastis.Hasil tangkapan suku laut di Kampung Panglong Desa Berakit yang masih mengandalkan teknologi sangat sederhana. Dulunya mampu menghasilkan tangkapan ikan pada kisaran 60-70 kg namun pasca terjadi kerusakan terumbu, karang hasil tangkapan ikan orang suku laut kurang lebih hanya pada angka 10-20 kg.

Kondisi surutnya perekonomian suku laut ini terus berjalan sampai tahun 2005, karena pada tahun yang sama terjadi perubahan kebijakan dari Pemerintah yang berkenaan larangan keras penangkapan ikan dengan menggunakan dinamit, bom atau alat tangkap lain yang tidak ramah lingkungan. Proses pemulihan kembali ekosistem terumbu karang membutuhkan waktu yang panjang terbukti sampai saat ini rata-rata penghasilan masyarakat suku laut tidak beranjak berkisar antara Rp 60.000 sampai Rp 90.000 per hari.

Pemkab Bintan melalui dana APBD Kabupaten Bintan pada tahun 2010 telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp.1.300.000.000 (satu milyar tiga ratus ribu rupiah) guna merealisasikan program rumah tak layak huni (RTLH). Dana ini diperuntukkan secara khusus bagi masyarakat Suku Laut di Kampung Panglong, Desa Berakit. Rehab rumah ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan perumahan dan permukiman masyarakat yang layak bagi masyarakat yang berpengasilan rendah (MBR).

Secara sosial dan berdasarkan kondisi eksisting permukiman masyarakat suku laut Kampung Panglong Desa Berakit dapat dikelompokan ke dalam 2 (dua) tipologi yaitu tipologi 1 (satu) rumah perahu suku laut mengelompok diperairan. Pengelompokan ini terjadi secara alami mengingat rumah perahu lainnya merupakan kaum kerabat atau memiliki hubungan keluarga misalnya rumah hu ayah, rumah perahu anak dan rumah perahu keluarga masing-masing merapat dalam satu kelompok rumah perahu perairan.
Tipologi 2 (dua) adalah massa bangunan rumah tinggal yang “menempel” pada pulau-pulau kecil yang tidak ada fasilitas di dalamnya. Mayoritas orientasi rumah tinggal tersebut mengarah ke laut dan membelakangi pulau tersebut.Bagian tengah pulau tersebut belum dimanfaatkan untuk bangunan atau fasilitas umum lainnya. Tata massa bangunan yang “menempel” pada pulau-pulau yang masih utuh dan hanya ditumbuhi pepohonan. Orientasi rumah tinggal kearah luar, dan mengikuti sepanjang garis pantai pulau tersebut.Sebagian sudah ada koneksi antar rumah berupa pelantar penghubung sebagai akses ke luar dan ke dalam lingkungan permukiman dimaksud.

 Kampung Wisata di Desa Berakit 
Kampung wisata yang ada di Desa Berakit disebut Kampung Panglong. Masyarakat panglong pada dasarnya adalah Suku Laut, kehidupan sehari-hari mereka di lakukan diatas sampan dan mereka tidak mengenal daratan sehingga kehidupan mereka tergantung pada ombak laut yang akan membawa mereka. Keyakinan masyarakat suku laut sebelum menetap di daratan adalah Atheis namun seiring berjalannya waktu masyarakat Suku Laut sekarang menganut Katolik dan Islam.
Di Kampung Panglong juga ada dapur arang. Dapur Arang, merupakan alat pemrosesan arang Bakau, Namun dikarenakan, menipisnya cadangan hutan Bakau di kawasan Kepulauan Riau maka, aktifitas pembakaran kayu Bakau menjadi Arang, terhenti. Konon Arang yang diproses di dapur ini, di ekspor ke mancanegara, melalui Singapura. Tapi kini, dapur arang tersebut dijadikan objek wisata oleh Pemkab Bintan.

Informasi dari Ketua Suku Laut Desa Berakit Xaverius Tintin, dapur arang memproduksi puluhan ton arang setiap harinya saat aktif produksi. Aktivitas dapur arang sangat membantu perekonomian penduduk Suku Laut Berakit. Orang lagi tak tergantung 100 persen pada hasil mencari ikan di laut. Namun, setelah pelarangan aktivitas dapur arang tahun 2013, warga Suku Laut kesulitan dalam mencari nafkah tambahan. Orang Laut menerima alasan pemerintah menutup aktivitas dapur arang karena dapat merusak habitat bakau di Bintan.

Masyarakat Desa Berakit yang mayoritas warganya dari Etnis Melayu juga masih menjunjung tradisi dalam budaya Melayu. Ada sejumlah perayaan yang dirayakan. Saat bulan Ramadhan, mulai digalakkan lagi tradisi lampu cangkok. Di daerah lain, seperti Kabupaten Lingga, nama tradisi ini tujuh likuran. Pelita atau lampu cangkok dipasang di depan rumah dan juga gerbang masjid atau gerbang jalan dalam menyemarakkan bulan suci Ramadhan. Puncaknya tanggal 27 Ramadhan. Tidak hanya membuat pelita atau lampu cangkok, masyarakatnya juga menggelar acara Ramadhan begitu semarak. Masyarakat menyediakan berbagai jenis makan saat puncak 27 Ramadhan.

Tradisi lain yang dirayakan adalah maulid nabi. Ada pembuatan bubur asyura. Selain itu, budaya gotong royong masih kental ditengah masyarakat Desa Berakit. Selain perayaan, permainan rakyat di Desa Berakit juga masih berkembang. Ada permainan gasing tradisional yang masih dimainkan.

 

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun)
Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)
CAPTCHA Image
Isikan kode di gambar